Showing posts with label filosofi-quran. Show all posts
Showing posts with label filosofi-quran. Show all posts

Saturday, March 21, 2015

Narasi

NARASI

QS. Al-An'aam [6]: 115
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

~ Kalimat-kalimat Tuhan merupakan narasi keabadian yang takkan punah oleh perguliran waktu, pergeseran masa dan pergantian zaman. Sehingga karena itu, kalimat-kalimat Tuhan merupakan referensi dasar tegaknya peradaban dan kebudayaan adiluhung. Kalimat-kalimat Tuhan merupakan dimensi yang tak terpisahkan dari dialektika historis dalam kompleksitas humanisme di Planet Bumi.

~ Jalan keselamatan hidup manusia terbentang panjang melalui penyingkapan makna yang tersembunyi dalam narasi-narasi Al-Quran.

QS. Al-Kahf [18]: 109
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)"."

~ Kalimat-kalimat Tuhan merupakan teori ilmu (epistemologi) yang luas tanpa batas. Untuk keperluan hidup di bumi, kalimat-kalimat Tuhan merupakan sumber mata air kecemerlangan bagi tercetusnya pencerahan hidup umat manusia.

~ Manusia diperhadapkan dengan dahaga epistemologi jika abai dan mengabaikan kalimat-kalimat Tuhan. Eksistensi manusia bahkan merosot derajatnya ke tingkat esensi binatang manakala sang manusia maninggalkan kalimat-kalimat Tuhan.

QS. Luqman [31]: 27
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

~ Agar tidak terpuruk menjadi paradigma bercorak parsial-partikular, maka teori ilmu (epistemologi) mutlak bertitik tolak dari kalimat-kalimat Tuhan. Melalui kesungguhan kehendak dan itikad baik, yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan, maka kalimat-kalimat Tuhan mutlak diformulasi menjadi epistemologi.

~ Krisis ilmu pengetahuan terjadi justru tatkala manusia merumuskan dan menetapkan berbagai macam epistemologi yang substansinya mengingkari hakikat yang termaktub dalam kalimat-kalimat Tuhan. Setiap epistemologi yang fundamennya bertentangan atau menyimpang dari hikmah yang termaktub dalam kalimat-kalimat Tuhan adalah epistemologi yang berwatak iblis serta rentan dilanda krisis.

QS. Ibrahim [14]: 24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,"

~ Narasi-narasi yang dikonstruksi oleh mahluk-mahluk berakal sesungguhnya mutlak bersifat prosaik, yaitu memiliki kedalaman makna dan sekaligus inspiratif bagi terwujudnya peradaban dan kebudayaan adiluhung. Dengan merujuk secara saksama kepada firman Tuhan, maka mahluk-mahluk berakal memiliki kapasitas besar yang tiada tara untuk mengkonstruksi narasi-narasi prosaik.

~ Hanya hedonisme, egosentrisme dan pragmatisme yang mengondisikan mahluk-mahluk berakal abai terhadap kapasitas dirinya dalam hal menghasilkan narasi-narasi prosaik.

QS. Ibrahim [14]: 26
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun."

~ Kejahatan endap dalam narasi-narasi yang buruk. Melalui narasi yang buruk,  maka manusia menghina, mengumpat dan mengolok-olok kehidupan dan sesamanya. Tercetusnya narasi-narasi buruk merupakan bukti kuatnya pengaruh iblis dalam dinamika peradaban dan kebudayaan. Maka, perjuangan hidup umat manusia adalah membebaskan dirinya dari narasi-narasi buruk.[]

Jakarta, 21 Maret 2015
Salam filosofis
Anwari WMK

Saturday, February 28, 2015

Filosofi Batu

FILOSOFI BATU

QS. Al Baqarah [2]: 74

مَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."

Iluminasi Batu
# Sebagian di antaranya mengalir air sungai dari padanya.
# Sebagian di antaranya ada yang terbelah lalu keluar mata air dari padanya.
# Sebagian di antaranya meluncur jatuh karena takut kepada Allah.

Frasa Filosofis Batu
# Jalur aliran sungai
# Sumber mata air sungai
# Jatuh dari posisi esensialnya menuju derajat eksistensial

Gradasi Kemaslahatan Manusia
# Sublimasi kehidupan yang semula cadas, berubah mengayomi semesta hayat alam semesta
# Diri sang manusia menjadi jalur mengalirnya peradaban adiluhung
# Diri sang manusia menjadi sumber mata air kecemerlangan peradaban adiluhung
# Diri sang manusia mampu mengatasi cengkraman pamrih duniawi, lantaran hayat dan karyanya dalam peradaban merupakan manifestasi dari keberserahan diri secara total kepada Allah.

Jakarta, 28 Februari 2015
ANWARI WMK