Friday, May 1, 2015

Filosofi Monoteisme

FILOSOFI MONOTEISME

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

Dalam perspektif Al-Qur'an, skema filosofis monoteisme mencakup tiga hal mendasar, yaitu: Monoteisme Eksistensialistik, Monoteisme Esensialistik, dan Monoteisme Negativistik.

I. Monoteisme Eksistensialistik

I.1. QS. Al-Anfal [8]:2
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Monoteisme merupakan situasi kejiwaan manusia yang utuh-menyeluruh dalam hal memberikan pembenaran, pengakuan dan kesaksian bahwa sesungguhnya Tauhid atau Keesaan Tuhan benar adanya. Kristalisasi atas situasi kejiwaan itu terejawantahkan secara riil ke dalam eksistensi manusia. Tanpa adanya pembenaran, pengakuan dan kesaksian terhadap monoteisme, manusia memang mampu membentuk eksistensi dalam realitas hidup duniawi. Tetapi eksistensi itu takkan pernah berada dalam derajat yang hakiki. Bahkan, eksistensi tersebut artifisial, semu, bahkan mewujud sebagai absurditas yang nihilistik.

Eksistensi hakiki dalam realitas hidup duniawi adalah eksistensi yang ditandai oleh sangat kuatnya kebersandaran para hamba yang bertauhid kepada Allah. Kebersandaran secara total kepada Allah itu lantas terajawantahkan sebagai pandangan dunia (Weltanschauung) yang holistik. Jejak langkah manusia bertauhid kongruwen dengan kehendak Tuhan untuk kemakmuran bumi berbasis kesalehan (QS. Al-Anbiya [21]: 105).

I.2. QS. Al-An'aam [6]:82
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Monoteisme tegak dengan prinsip filosofis yang jelas dan kongkrit. Bahwa monoteisme senantiasa bercorak atomistik, tak terbagi, tak terbelah, tak terurai. Itulah mengapa, monoteisme tidak bercampur baur dengan politeisme. Pilihan hidup atas monoteisme adalah opsi bebas untuk hanya berpihak pada monoteisme dan mengelakkan diri dari politeisme. Masuk dalam kategori pengelakan diri politeisme tersebut adalah purifikasi kehidupan dari kezaliman, kefasikan, kemunafikan, dan kedunguan.

Monoteisme dalam maknanya yang fundamental merupakan garansi bagi keamanan hidup manusia. Monoteisme adalah sumber keselamatan hidup manusia. Para penganut Tauhid adalah manusia yang mampu mendefinisikan dengan sangat jelas hakikat keamanan dirinya --- sebagai mahluk fana --- dalam berbagai dimensi kehidupan, terutama saat realitas hidup penuh sesak dengan berbagai macam kemelut. Monoteisme mengukuhkan eksistensi manusia untuk pembebasan diri dari belenggu-belenggu profanitas (QS. Al-A'raf [7]:196).

II. Monoteisme Esensialistik

II.1. QS. Al-Baqarah [2]:260
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam dimensi tertentu, manusia dituntut kritis memahami hakikat monoteisme. Kehendak manusia untuk mendapatkan pembuktian tentang kebenaran monoteisme acapkali justru malah terjebak ke dalam cara pandang kebenaran demonstratif. Monoteisme lalu dievaluasi hakikat kebenarannya berdasarkan prinsip-prinsip reifikasi yang materialistik. Keagungan monoteisme pada level imajinasi dan intelek lalu diluruhkan ke tingkat fisik. Inilah sebuah keadaan yang lebih tepat digambarkan sebagai esensialisme monoteistik. Semestinya, ada dan atau tidaknya kebenaran demonstratif, keyakinan manusia akan monoteisme tak pernah tergerus sedikit pun.

Terlampau keras sikap manusia untuk mendapatkan bukti-bukti kebenaran demonstratif berkenaan dengan keberadaan Allah justru malah menumpulkan intelektualitas manusia. Allah yang transenden dan sekaligus imanen sejatinya meniadakan tuntutan manusia untuk memahami Allah secara antropomorfik. Sebab hakikat Allah yang transenden telah sedemikian rupa beremanasi di alam semesta menjadi sesuatu yang imanen. Penentangan terhadap prinsip eksistensi hakiki Ilahi ini justru malah mencetuskan arogansi dalam jiwa manusia (QS. Al-A'raf [7]:133).

III. Monoteisme Negativistik

III.1. Al-Baqarah [2]:108
Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. 

Tantangan besar dalam kehidupan duniawi adalah ambigu manusia saat berdiri di antara dua pendulum jiwa, yaitu antara keimanan dan kekafiran. Rumitnya kehidupan duniawi cenderung menggoyahkan jiwa manusia. Hingga sampai pada satu titik di mana iman dalam keharibaan jiwa manusia berada dalam kondisi fluktuatif, naik dan turun (QS. Ash-Shu'ara [26]:174). Semua ini ujian besar bagi manusia untuk terus bersiteguh dengan iman dan menolak segala bentuk kekafiran.

Tatkala Weltanschauung manusia terjebak ke dalam kesadaran keliru bahwa sumber daya bumi terbatas dan kebutuhan manusia tak terbatas, maka dengan serta-merta manusia terjebak ke dalam pusaran transaksional monoteisme negativistik (QS. Al-Baqarah [2]:268). Manusia lalu dengan mudahnya menukar keimanan dengan kekafiran. Sesungguhnya, sikap yang benar àdalah berpijak pada pandangan filosofis, bahwa sumber daya bumi tak terbatas, tetapi kapasitas manusia terbatas untuk pengelolaan sumber daya bumi sehingga kapasitas tersebut mutlak dipertajam dan ditingkatkan melalui proses pensucian jiwa secara terus-menerus (QS. Al-Baqarah [2]:22; QS. Al-Baqarah [2]:245).

III.2. Ali Imran [3]:177
Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.

Tatkala manusia telah memilih opsi kafir dan kekafiran --- setelah mencampakkan iman --- maka struktur kesadaran yang terbentuk dalam diri sang manusia sepenuhnya bercorak monoteisme negativistik. Gagasan, ucapan dan tindakan yang melingkupi dirinya sepenuhnya anti-Tuhan, melawan Tuhan atau tergeliat sebagai tindakan oposisi terhadap eksistensi hakiki Tuhan. Manusia yang telah memilih jalan hidup kafir dan kekafiran adalah mereka yang terpelanting ke puncak-puncak kesombongan, tapi kesombongan itu sendiri takkan pernah sedikit pun mampu mengecilkan keagungan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan, kesombongan itu tak dapat menepis azab pedih di akhirat yang diberlakukan Allah sebagai balasan atas kekafiran manusia.

Keputusan manusia untuk menukar keimanan dengan kekafiran ternyata hanya dilandaskan pada alasan-alasan yang sesungguhnya artifisial. Jiwa setiap manusia mengakui, bahwa rahmat dan karunia Allah ditebarkan ke alam semesta berdasarkan hak Allah yang tak dapat diganggu gugat oleh siapa pun, yang tak dapat dioposisi oleh kekuatan apa pun. Manusia yang menolak hak Allah lantas mencetuskan protes hingga kemudian memilih jalan kafir dan kekafiran (QS. Al-Baqarah [2]:90).[]

No comments:

Post a Comment