Wednesday, March 25, 2015

Empat Format Kebenaran

EMPAT FORMAT KEBENARAN

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

I. Empat Format Kebenaran

(1) Kebenaran Naturalistik
(2) Kebenaran Simpatik
(3) Kebenaran Egoistik
(4) Kebenaran Interpretatif

II. Kebenaran Naturalistik

Kebenaran yang koherens dengan keseimbangan-keseimbangan alam. Kebenaran yang tidak mendistorsi ekosistem.

QS. Ar-Rum [30]: 41 menjelaskan kebenaran naturalistik tersebut dengan narasi kalimat: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

III. Kebenaran Simpatik

Kebenaran yang toleran terhadap kebenaran lain, tanpa mengkompromikan antara satu kebenaran dengan kebenaran lain secara eklektik. Seseorang yang memegang teguh suatu kebenaran tidak membenci orang lain atas dasar perbedaan pandangan tentang kebenaran.

Kebenaran Simpatik ini merupakan keniscayaan yang termaktub dalam QS. An-Nahl [16]: 125, dengan keindahan narasi sebagai berikut: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

IV. Kebenaran Egoistik

Kebenaran yang menolak secara keras kebenaran pihak lain atas dasar perbedaan substansi dan filosofi. Seseorang bersikap keras terhadap keberadaan orang lain berdasarkan perbedaan mahzab, pandangan dunia dan pemikiran.

Teks suci berkenaan dengan hal ini termaktub ke dalam QS. Asy-Syu'ara [42]: 8, dengan narasi: "Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan mereka satu umat, tetapi dia memasukkan orang-orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka pelindung dan penolong."

Teks suci ini mengklarifikasi, bahwa kebenaran egoistik pada diri manusia sesungguhnya menggerus hak Allah dalam hal penetapan eksistensi hakiki manusia.

V. Kebenaran Interpretatif

Kebenaran yang diperoleh melalui studi secara metodologis terhadap seluruh konsepsi kebenaran yang telah terkonstruksi oleh kalangan pemikir dan filosof. Seluruh konsepsi kebenaran diperlakukan secara obyektif sebagai sasaran studi.

Teks suci berkenaan dengan hal ini termaktub dalam QS Al-Baqarah [2]: 147 dengan narasi sebagai berikut: "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."

Mengacu pada teks suci ini berarti, kebenaran mutlak dicari melalui upaya riset secara saksama. Kebenaran naturalistik dan kebenaran simpatik dikuak seluruh hakikatnya, hingga kemudian menghasilkan kesimpulan yang bermakna.

VI. Catatan Kritis

Intoleransi dalam berbagai bentuknya yang pada derajat tertentu diwarnai kekerasan sesungguhnya bertitik tolak dari Kebenaran Egoistik. Baik dalam gerakan politik maupun dalam gerakan berlabel agama, Kebenaran Egoistik berpeluang memporak-porandakan kehidupan umat manusia.

Masuk ke dalam cakupan Kebenaran Egoistik adalah pengkafiran, pembidahan, tuduhan sesat dan terorisme.[]

Saturday, March 21, 2015

Narasi

NARASI

QS. Al-An'aam [6]: 115
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

~ Kalimat-kalimat Tuhan merupakan narasi keabadian yang takkan punah oleh perguliran waktu, pergeseran masa dan pergantian zaman. Sehingga karena itu, kalimat-kalimat Tuhan merupakan referensi dasar tegaknya peradaban dan kebudayaan adiluhung. Kalimat-kalimat Tuhan merupakan dimensi yang tak terpisahkan dari dialektika historis dalam kompleksitas humanisme di Planet Bumi.

~ Jalan keselamatan hidup manusia terbentang panjang melalui penyingkapan makna yang tersembunyi dalam narasi-narasi Al-Quran.

QS. Al-Kahf [18]: 109
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)"."

~ Kalimat-kalimat Tuhan merupakan teori ilmu (epistemologi) yang luas tanpa batas. Untuk keperluan hidup di bumi, kalimat-kalimat Tuhan merupakan sumber mata air kecemerlangan bagi tercetusnya pencerahan hidup umat manusia.

~ Manusia diperhadapkan dengan dahaga epistemologi jika abai dan mengabaikan kalimat-kalimat Tuhan. Eksistensi manusia bahkan merosot derajatnya ke tingkat esensi binatang manakala sang manusia maninggalkan kalimat-kalimat Tuhan.

QS. Luqman [31]: 27
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

~ Agar tidak terpuruk menjadi paradigma bercorak parsial-partikular, maka teori ilmu (epistemologi) mutlak bertitik tolak dari kalimat-kalimat Tuhan. Melalui kesungguhan kehendak dan itikad baik, yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan, maka kalimat-kalimat Tuhan mutlak diformulasi menjadi epistemologi.

~ Krisis ilmu pengetahuan terjadi justru tatkala manusia merumuskan dan menetapkan berbagai macam epistemologi yang substansinya mengingkari hakikat yang termaktub dalam kalimat-kalimat Tuhan. Setiap epistemologi yang fundamennya bertentangan atau menyimpang dari hikmah yang termaktub dalam kalimat-kalimat Tuhan adalah epistemologi yang berwatak iblis serta rentan dilanda krisis.

QS. Ibrahim [14]: 24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,"

~ Narasi-narasi yang dikonstruksi oleh mahluk-mahluk berakal sesungguhnya mutlak bersifat prosaik, yaitu memiliki kedalaman makna dan sekaligus inspiratif bagi terwujudnya peradaban dan kebudayaan adiluhung. Dengan merujuk secara saksama kepada firman Tuhan, maka mahluk-mahluk berakal memiliki kapasitas besar yang tiada tara untuk mengkonstruksi narasi-narasi prosaik.

~ Hanya hedonisme, egosentrisme dan pragmatisme yang mengondisikan mahluk-mahluk berakal abai terhadap kapasitas dirinya dalam hal menghasilkan narasi-narasi prosaik.

QS. Ibrahim [14]: 26
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun."

~ Kejahatan endap dalam narasi-narasi yang buruk. Melalui narasi yang buruk,  maka manusia menghina, mengumpat dan mengolok-olok kehidupan dan sesamanya. Tercetusnya narasi-narasi buruk merupakan bukti kuatnya pengaruh iblis dalam dinamika peradaban dan kebudayaan. Maka, perjuangan hidup umat manusia adalah membebaskan dirinya dari narasi-narasi buruk.[]

Jakarta, 21 Maret 2015
Salam filosofis
Anwari WMK