EMPAT FORMAT KEBENARAN
Anotasi Filosofis
Anwari WMK
I. Empat Format Kebenaran
(1) Kebenaran Naturalistik
(2) Kebenaran Simpatik
(3) Kebenaran Egoistik
(4) Kebenaran Interpretatif
II. Kebenaran Naturalistik
Kebenaran yang koherens dengan keseimbangan-keseimbangan alam. Kebenaran yang tidak mendistorsi ekosistem.
QS. Ar-Rum [30]: 41 menjelaskan kebenaran naturalistik tersebut dengan narasi kalimat: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
III. Kebenaran Simpatik
Kebenaran yang toleran terhadap kebenaran lain, tanpa mengkompromikan antara satu kebenaran dengan kebenaran lain secara eklektik. Seseorang yang memegang teguh suatu kebenaran tidak membenci orang lain atas dasar perbedaan pandangan tentang kebenaran.
Kebenaran Simpatik ini merupakan keniscayaan yang termaktub dalam QS. An-Nahl [16]: 125, dengan keindahan narasi sebagai berikut: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
IV. Kebenaran Egoistik
Kebenaran yang menolak secara keras kebenaran pihak lain atas dasar perbedaan substansi dan filosofi. Seseorang bersikap keras terhadap keberadaan orang lain berdasarkan perbedaan mahzab, pandangan dunia dan pemikiran.
Teks suci berkenaan dengan hal ini termaktub ke dalam QS. Asy-Syu'ara [42]: 8, dengan narasi: "Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan mereka satu umat, tetapi dia memasukkan orang-orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka pelindung dan penolong."
Teks suci ini mengklarifikasi, bahwa kebenaran egoistik pada diri manusia sesungguhnya menggerus hak Allah dalam hal penetapan eksistensi hakiki manusia.
V. Kebenaran Interpretatif
Kebenaran yang diperoleh melalui studi secara metodologis terhadap seluruh konsepsi kebenaran yang telah terkonstruksi oleh kalangan pemikir dan filosof. Seluruh konsepsi kebenaran diperlakukan secara obyektif sebagai sasaran studi.
Teks suci berkenaan dengan hal ini termaktub dalam QS Al-Baqarah [2]: 147 dengan narasi sebagai berikut: "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."
Mengacu pada teks suci ini berarti, kebenaran mutlak dicari melalui upaya riset secara saksama. Kebenaran naturalistik dan kebenaran simpatik dikuak seluruh hakikatnya, hingga kemudian menghasilkan kesimpulan yang bermakna.
VI. Catatan Kritis
Intoleransi dalam berbagai bentuknya yang pada derajat tertentu diwarnai kekerasan sesungguhnya bertitik tolak dari Kebenaran Egoistik. Baik dalam gerakan politik maupun dalam gerakan berlabel agama, Kebenaran Egoistik berpeluang memporak-porandakan kehidupan umat manusia.
Masuk ke dalam cakupan Kebenaran Egoistik adalah pengkafiran, pembidahan, tuduhan sesat dan terorisme.[]