Thursday, May 21, 2015

PARAMETER KEHIDUPAN

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

I. Prolog

SALAH satu frasa filsofis yang bercorak multidimensional dalam Al-Qurán adalah ukuran. Dalam narasi Al-Qurán, ukuran bertautan erat dengan begitu banyak aspek. Dengan frasa filosofis ukuran, sebagaimana termaktub dalam Al-Qurán, Allah SWT menyingkapkan suatu hakikat, bahwa realitas hidup umat manusia di bumi sesungguhnya berwatak holistik-komprehensif. Melalui pembacaan secara filosofis terhadap frasa ukuran, maka teridentifikasikan adanya parameter-parameter kehidupan yang bersifat niscaya.

II. Epistemologi Ilahiah

Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. ~ QS. Al-Hijr [15]:21.

Sebagai hakikat yang imanen dan transenden, keberadaan Tuhan ditandai oleh: [1] Kejelasan khazanah tentang alam semesta, [2] Keutuhan epistemologi tentang alam semesta. Kejelasan khazanah dan keutuhan epistemologi itu bersifat superlatif, tak tertandingi oleh khazanah dan epistemologi lain. Khazanah dan epistemologi Ilahiah itu lalu menetapkan arti siginifikan segala ukuran, dan setiap ukuran memiliki kejelasan geneologi.

Berpijak pada adanya puspa ragam ukuran itulah lantas Tuhan berkehendak menciptakan alam semesta. Sebagai akibatnya, segala macam kemengadaan di alam semesta memiliki ukuran yang clear and distinct.

III. Alam Semesta

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. ~ QS. Al Qamar [54]:49.

Mahluk atau kemahlukan mencakup dua kategori pokok, yaitu: [1] Substansi dengan bentuk, dan [2] Substansi tanpa bentuk. Mahluk dalam kategori substansi dengan bentuk adalah malaikat, jinn, iblis dan manusia, binatang, tumbuhan, partikel, molekul, alam kosmos dan lain-lain. Mahluk dalam kategori substansi tanpa bentuk adalah jiwa, ruh, imajinasi, intelek dan cahaya.

Mahluk dengan dua macam kategori itu mengada di alam semesta atau bahkan berdialektika di alam semesta. Variabel tunggal yang mensetarakan esensi seluruh mahluk adalah ukuran atau berlakunya ukuran. Dengan demikian, tak ada mahluk atau kemahlukan jika tidak dalam rangka ukuran. Dalam format apa pun, mahluk dan kemahlukan selalu terdeterminasi oleh ukuran yang secara azali memang telah ditetapkan Tuhan. Sebaliknya, hanyalah hakikat Tuhan merupakan eksistensi tanpa ukuran. Itu karena, keberadaan Tuhan memang tak terukur atau tak dapat diukur dengan takaran apa pun.

Konsekuensi filosofis dari argumen ini dapat disimak dari adanya saling hubungan yang niscaya antara rincian dan susunan. Ketersusunan segala rincian merupakan akibat logis dari adanya ukuran atau berlakunya ukuran. Manakala tak ada ukuran, maka segala macam rincian mustahil saling bersenyawa membentuk susunan-susunan.

IV. Referensi Transenden

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.[1] yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.[2] ~ QS. Al Furqaan [25]:1-2.

Segala sesuatu di alam semesta memiliki ukuran atas dasar: [1] Kemahakuasaan Allah di langit dan di bumi, [2] Moneteisme Allah yang seuutuhnya, [3] Penciptaan Allah atas segala sesuatu. Terbentuknya ukuran merupakan konfirmasi atas semua itu. Dan referensi tentang makna ukuran yang sedemikian rupa itu berpijak pada kejelasan referensi, yaitu terdedahkan dalam paparan filosofis Al-Qurán.

Sebagai referensi transenden, penjelasan Al-Qurán tentang segala macam ukuran dan makna seluruh ukuran merupakan penjelasan yang mengandung hikmah filosofis. Maka, upaya penemuan makna ukuran pada tingkat fenomenologis dan hermeneutik meniscayakan diberlakukannya pembacaaan terhadap Al-Qurán.

V. Ruang-Waktu

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ~ QS. Al Muzzammil [73]:20.

Selama hayat manusia masih mengada (being) di bumi, maka manusia terus-menerus terdeterminasi secara esensial oleh ruang-waktu. Tetapi secara eksistensial, ruang waktu itu sendiri terdeterminasi oleh waktu-waktu peribadatan manusia. Dalam keseluruhan ruang-waktu, ritme waktu peribadatan merupakan mutiara kehidupan bermahkota keagungan makna. Itulah mengapa, hanya melalui peribadatan, ruang waktu benar-benar bersenyawa dengan eksistensi manusia. Tanpa peribadatan, maka manusia hanya mampu being dalam ruang-waktu. Tapi dengan peribadatan, ruang-waktu being  dalam diri manusia.

Tuhan menetapkan ukuran waktu, agar peribadatan mahluk benar-benar berada dalam spektrum yang dapat diperhitungkan dan sekaligus dapat dikelola secara humanistik. Diferensiasi antara siang dan malam merupakan takaran pasti atas waktu agar jiwa manusia terlatih menyadari secara asosiatif – bukan secara monoton –hakikat segala kebajikan yang inherent dalam peribadatan. Hanya saja, kemantapan jiwa manusia menalar makna dan hakikat waktu mempersyaratkan sang manusia untuk sepenuhnya dekat dengan Al-Qurán. Bahkan kedekatan manusia dengan Al-Qurán kian terasa relevan tatkala sang manusia berada dalam keadaan sakit, dalam proses dialektika pencarian dan penemuan kebenaran, dan tatkala tengah berada di tengah-tengah kancah medan jihad.

Ukuran (waktu) dalam perspektif eksistensial di atas merupakan atmosfer filosofis bagi jiwa yang justru mengondisikan manusia mampu mencerap hikmah-hikmah transenden dari aksiologi shalat, zakat dan pengorbanan – dalam format memberikan pinjaman terbaik kepada Allah.

Demikian hakikat ukuran sebagai parameter kompleks kehidupan manusia.

VI. Ontologi Bumi

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. ~ QS. Al-Hijr [15]:19.

Di jagat semesta, bumi merupakan zona hunian yang ontologi-ontologinya bersenyawa dengan hayat umat manusia. Atas dasar alasan itu maka seluruh ontologi yang tersedia di bumi memiliki ukuran atau kejelasan ukuran. Bahkan berlakunya ukuran atas setiap ontologi memposisikan bumi sebagai zona bagi mewujudnya peradaban dan kebudayaan adiluhung.

Keterhamparan bumi juga menjadi sesuatu yang niscaya oleh adanya ontologi-ontologi yang memiliki klaritas ukuran. Gunung dan tumbuhan merupakan ontologi yang relevan dengan keterhamparan bumi. Makna dari keberadaan gunung dan tumbuhan justru karena keduanya memiliki kejelasan ukuran.

VII. Bumi yang Kosmologis

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. ~ QS. Al Mu'minuun [23]:18.

Air merupakan ontologi yang berfungsi signifikan memperhubungkan langit dan bumi. Dalam konteks ontologi air, langit berkedudukan sebagai geneologinya dan bumi berkedudukan sebagai zona tata kelolanya. Jika langit pemberi, maka bumi penerima. Pola relasi inilah yang mendedahkan bumi berdimensi kosmologis. Artinya, keberadaan bumi mustahil dilepaskan dari dimensi-dimensi kosmologis di alam semesta.

Dengan pola relasi itu pula, maka dapat dimengerti jika keterkiriman air hujan dari langit menuju bumi, senantiasa memiliki ukuran, atau didasarkan pada ukuran. Maknanya secara filosofis adalah ini: relasi antara pemberi dan penerima dalam konteks mahluk dan kemahlukan mutlak merujuk pada arti penting ukuran, mengacu pada ukuran. Seperti buruknya tata kelola air di bumi akibat kerusakan ekosistem telah sedemikian rupa menjadi air hujan salah satu sebab terjadinya banjir. Jika dalam keadaan demikian ternyata air hujan datang menguyur bumi tanpa ukuran – indefinit – maka dapat dipastikan timbul malapetaka tak terperikan di bumi.

VIII. Cipta Karsa Manusia

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. ~ Asy Syuura [42]:27.

Tuhan telah menetapkan ukuran, bahwa rezeki yang diberikan kepada manusia tidak bersifat indefinit, tetapi justru definit. Sebab, bilamana rezeki bersifat indefinit, timbul malapetaka besar dalam hayat manusia di tengah pusaran peradaban dan kebudayaan. Dengan rezeki melimpah ruah tak bertepi dalam kehidupan seorang manusia, maka jiwa sang manusia berada dalam keadaan ringkih, sehingga hanya persoalan waktu saja jika kemudian manusia sepenuhnya tergelincir dalam kefasikan, kejahatan dan absurditas. Bahkan, manusia berada dalam tendensi untuk hanya menzalimi dirinya sendiri tatkala tengah berada di tengah keberlimpahan rezeki yang tak bertepi.

Epistemologi Allah tentang rezeki untuk manusia memiliki kejelasan prinsip filosofis. Epistemologi Allah menetapkan ukuran rezeki yang ditebarkan untuk kehidupan umat manusia di bumi. Epistemologi ini terkukuhkan sebagai keniscayaan yang bersifat transenden. Rezeki terumuskan sebagai pemberian Allah kepada manusia dengan mengacu pada cipta karsa manusia yang bernilai maslahat bagi realitas hidup berdurasi jangka panjang.

IX. Humanisme

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. ~ QS. Ar Ra'd [13]:8.

Kompleksitas reproduksi manusia merupakan semiotika berkenaan dengan pentingnya humanisme. Melalui proses reproduksi, manusia mampu merawat harapan untuk melanjutkan dinamika kebudayaan yang huamnsitik di bumi. Demikian pentingnya aspek reproduksi bagi humanisme, Tuhan mensupervisi secara langsung proses reproduksi manusia. Untuk keperluan supervisi itu, maka proses reproduksi manusia masuk ke dalam cakupan filosofi ukuran, persis sebagaimana dikemukan Al-Qur’an.

X. Epilog

Peradaban dan kebudayaan umat manusia di bumi membutuhkan kejelasan parameter dalam konteks:


  • Keutuhan epistemologi yang mendasari berlakunya segala macam ukuran.
  • Unifikasi keberadaan berbagai macam mahluk melalui ukuran yang spesifik.
  • Kejelasan referensi untuk mengargumentasikan bahwa ukuran atas keberadaan seluruh mahluk merupakan parameter transenden
  • Ibadah – manusia kepada Tuhan – merupakan ukuran paling substansial berkenaan dengan being ruang waktu.
  • Seluruh ontologi being di bumi berdasarkan ukuran yang clear and distinct.
  • Relasi antara bumi dan alam semesta yang berdimensi kosmologis memiliki kerangka logis berupa ukuran.
  • Ukuran rezeki manusia didasarkan pada takaran cipta karsa dalam keseluruhan karya manusia.
  • Ukuran atas humanisme diberlakukan demi menjamin lestarinya kemaslahatan hidup umat manusia.[]




[1] Maksudnya jin dan manusia.
[2] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

Saturday, May 2, 2015

Problematika Personal-Interpersonal Materialisme

PROBLEMATIKA PERSONAL - INTERPERSONAL MATERIALISME

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

Materialisme adalah pandangan dunia (Weltanschauung) yang hanya menilai penting kejayaan materi malampaui pentingnya keagungan ruhani. Tatkala jiwa individu dan masyarakat terbelenggu ke dalam materialisme yang tiada tara maka senarai persoalan muncul ke permukaan serta turut mendistorsi peradaban dan kebudayaan. Studi hermeneutik terhadap Al-Qur'an menunjukkan,  bahwa materialisme memunculkan sengkarut kembar yang dapat ditaksonomikan menjadi "problematika personal" dan "problematika interpersonal".

I. Problematika Personal

QS. Ali Imran [3]:180
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sebagai realitas yang tak terpisahkan dari materialisme, bakhil atau kebakhilan merupakan keburukan, oleh karena memang tidak ada sedikitpun ruang kebajikan dalam setiap kebakhilan. Tak dapat dibantah, kebakhilan merupakan pengingkaran terhadap hakikat kepemilikan Allah atas keberadaan alam semesta. Kebakhilan adalah sikap penentangan manusia terhadap eksistensi hakiki Allah sebagai pemilik alam semesta. Agenda-agenda kebajikan yang bermakna signifikan bagi pemartabatan kemanusiaan yang sesungguhnya maslahat dalam jangka panjang, tiba-tiba terbengkalai akibat merajalelanya kebakhilan.

QS. Al-Ahzab [33]:19
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Dalam strukturalisme sosial yang kompleks, kaum bakhil adalah manusia atau himpunan manusia yang dilanda persoalan kekacauan jiwa akibat sangat kuatnya penolakan mereka terhadap kebajikan berdasarkan alasan-alasan materi. Sebagai musuh kebajikan, jiwa kaum bakhil hanya adaptif terhadap kejahatan yang bergerak secara subtil, atau kejahatan yang mencuat dengan tampilan serba lembut dan tampak elegan di permukaan.

Dalam sekuen waktu tertentu, strukturalisme sosial mengalami keterguncangan, dan dalam sekuen waktu yang lain strukturalisme sosial berada dalam keadaan stabil. Dalam situasi keterguncangan strukturalisme sosial, jiwa orang-orang bakhil dilanda kepanikan, sehingga tampak berpihak pada kebajikan meski sesungguhnya menolaknya. Dalam situasi stabilnya strukturalisme sosial, kepongahan kaum bakhil ditandai oleh produksi wacana secara super canggih untuk mencaci maki kebajikan. Jejak langkah orang-orang bakhil terkondisikan untuk membenci dan melawan kebajikan.

QS. Al-Adiyat [100]:6-8
* sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
* dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
* dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

Dalam kaitannya dengan bakhil dan kebakhilan, problematika personal manusia sesungguhnya bercorak multidimensional, namun tersimpulkan dalam kata kunci: cinta harta. Problematika personal yang bercorak multidimensional itu tampak jelas pada dua persoalan berikut ini.

Pertama, kebakhilan merupakan aksiologi iblisiah lantaran hadir ke tengah kancah kehidupan sebagai sebuah wujud keingkaran manusia terhadap Allah. Ini karena, kaum bakhil memilih opsi kehidupan --- merintangi terwujudnya kebajikan --- yang sama sekali tak direstui oleh Tuhan. Kedua, kaum bakhil merupakan saksi atas dirinya sendiri sebagai figur dan entitas jiwa yang dengan sadar menentang imperatif kebajikan yang niscaya Ilahiah melalui jalan kedermawanan.

Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa bakhil dan kebakhilan merupakan sumber destruksi yang secara telak merintangi manusia masuk ke dalam paradigma kemaslahatan serta menghalangi manusia masuk ke dalam aksi kebajikan.

QS. Al-Lail [92]:8-11
* Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
*  serta mendustakan pahala terbaik,
* maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
* Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.

Dalam jiwa orang-orang bakhil terpatri asumsi bahwa mereka berada dalam keadaan cukup dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk mengatasi segala macam tantangan hidup. Kebakhilan merupakan kelanjutan logis dari percaya diri berlebihan menghadapi segala bentuk dialektika yang terpanggungkan di bumi. Kebakhilan dalam konteks ini berada dalam spektrum subyektivisme atas kemampuan diri sendiri, dengan memposisikan dunia dengan segala isinya semata sebagai obyek eksploitasi.

Pada jiwa kaum bakhil tergusur total prinsip kehidupan transenden yang musti berada dalam bentangan tarik-menarik antara harapan dan kecemasan, yaitu harapan bahwa dosa-dosa akan diampuni Tuhan dan kecemasan kalau-kalau segala kebajikan di dunia ditolak Tuhan. Kaum bakhil di sepanjang sejarah bumi telah kehilangan unsur penting dalam kejiwaan, yakni terpeliharanya tegangan --- yang sesungguhnya kreatif --- antara harapan dan kecemasan. Hingga pada satu titik nadir distorsi jiwa, kaum bakhil tak memandang signifikan makna pahala.

Personalitas kaum bakhil yang sedemikian rupa itu dieksplisitkan Tuhan sebagai personalitas yang nista di akhirat, sebab terlunta-lunta dalam perjalanan yang sukar. Bahkan, besarnya harta yang dikuasai kaum bakhil bukan saja tak berguna dalam konteks realitas akhirat, tapi juga tak berguna dalam konteks realitas duniawi.

QS. At-Takwir [81]:24
Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.

Dimensi-dimensi transenden penentu ketepatan eskatologi manusia sesungguhnya merupakan ontologi hikmah yang niscaya dipedagogikan ke tengah kancah kehidupan masyarakat. Nabi telah menunjukkan terlaksananya pedagogi aspek-aspek transenden itu melalui ucapan dan tindakan. Ahli-ahli hikmah pada era pasca Nabi adalah minoritas jenius yang memikul beban besar penyampaian pengetahuan transenden. Mereka masuk ke dalam kategori kaum bakhil jika ternyata menyembunyikan hikmah-hikmah transenden hanya untuk dirinya sendiri.

II. Problematika Interpersonal

QS. Al-Baqarah [2]:268
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam relasi interpersonal berdasarkan tata susunan masyarakat, kikir merupakan sikap hidup yang keliru oleh ekstremnya kekhawatiran jatuh miskin. Dengan berpijak pada prinsip hidup kikir, sukma kedermawanan tercerabut hingga ke akar-akarnya dalam totalitas tatanan hidup masyarakat. Inilah keadaan yang tidak memungkinkan tumbuhnya solidaritas sosial serta memustahilkan terbentuknya caring siciety. Tata susunan masyarakat malah penuh sesak oleh Weltanschauung akuisme.

Pembacaan secara hermeneutik terhadap Al-Qur'an menunjukkan, bahwa kikir terpatri menjadi Weltanschauung oleh kekuatan besar setan dalam peradaban manusia dan dalam kebudayaan manusia. Setan memancangkan agenda untuk sepenuhnya mempengaruhi jiwa masyarakat agar kikir dikembangkan sedemikian rupa sebagai mekanisme pertahanan diri. Formasi Weltanschauung yang disuguhkan setan adalah menggiring manusia untuk sepenuhnya takut berhadapan dengan nestapa ketiadaan harta. Langkah pragmatis mengatasi ancaman ketiadaan harta adalah hidup berdasarkan prinsip kikir. Sehingga dengan demikian, setan meraih kemenangan besar menundukkan manusia, melalui tumbuhnya watak kikir dalam diri manusia.

QS. An-Nisa' [4]:36-37
* Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
* (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.

Sesungguhnya, tak ada hakikat monoteisme dalam kekikiran. Sebab, monoteisme meniscayakan terejawantahkannya kedermawanan. Antara monoteisme dan kedermawanan terentang tali merah yang mempersambungkan keduanya. Karena Allah Maha Pemurah maka kepercayaan manusia pada keesaan Allah meniscayakan sang manusia untuk mengadopsi sifat rahman dan rahim Tuhan. Tanpa prinsip ini maka sesungguhnya pengakuan terhadap monoteisme hanyalah formalistik belaka.

Sementara antara monoteisme dan kekikiran tak ada sedikit pun keterjalinan hubungan. Kikir dan kekikiran sepenuhnya berwatak setan, sehingga berada dalam posisi berlawanan dengan monoteisme. Sekali relasi interpersonal berpijak pada kekikiran, maka seketika itu pula masyarakat mengada (being) dengan bersandar kepada setan, atau menjadi bagian inherent dari keberadaan setan. Itulah mengapa, pribadi-pribadi yang kikir membenci kedermawanan, serta tak kenal lelah menyebar luaskan kekikiran agar sepenuhnya terkukuhkan sebagai pandangan dunia dalam peradaban dan kebudayaan untuk tujuan besar menyembunyikan karunia Allah di tengah kancah kehidupan masyarakat.

QS. At-Taubah [9]:76
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Dalam ruang publik, personalitas-personalitas kikir dan kekikiran takkan pernah jedah membendung karunia Allah mengaliri sungai-sungai kehidupan. Personalitas-personalitas kikir adalah para figur yang tidak rela menatap kenyataan bahwa karunia Allah menyebar secara luas di semesta kehidupan. Sehingga dengan demikian, kikir dan kekikiran sama dan sebangun maknanya dengan hegemoni dan dominasi karunia Allah di arena kehidupan segelintir orang. Sementara sebagian terbesar manusia terhalangi untuk dapat menikmati karunia Allah.

QS. Al-Isra' [17]:100
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.

Kekikiran adalah faktor yang merintangi diseminasi kebajikan antar sesama manusia. Malah, kekikiran mencetuskan pertarungan yang tak berkesudahan di antata sesama manusia atas dasar ketamakan. Secara demikian, muncul ideologi homo homini lupus, manusia memangsa sesamanya. Dari sini pula tersimpulkan, bahwa ketidakadilan selalu bermula dari tidak meratanya persebaran rahmat Allah oleh banalitas segelintir manusia dalam tata susunan masyarakat.

QS. Al-Furqan [25]:67
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dua pendulum jiwa yang niscaya dihindari masyarakat adalah hidup yang berlebihan dan hidup yang dipenuhi oleh kekikiran. Pengelakan terhadap dua hal ini merupakan prasyarat bagi masyarakat untuk menemukan jalan keselamatan hidup kolektif kembali kepada Allah secara bermartabat. Hidup berlebihan memiliki makna setara dengan kekikiran, sebab keduanya sama-sama mensterilisasi masyarakat dari kebajikan.

Konsumerisme dalam kehidupan masyarakat memunculnya dua macam respons pada tingkat individu, yaitu respons hura-hura dan respons kekikiran. Jika respons yang pertama, mengkonfirmasi konsumerisme, maka respons yang kedua merupakan negativitas terhadap konsumerisme. Dua format respons ini potensial mencetuskan krisis, sebab perekonomian terombang-ambing ke dalam gelombang inflasi dan deflasi.

QS. Muhammad [47]:37
Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.

Kekikiran merupakan penentangan terhadap kehendak Allah bagi terwujudnya kebajikan. Allah senantiasa menuntut manusia berkorban harta dan jiwa untuk keharusan yang niscaya terwujudnya kebajikan. Tetapi, kikir dan kekikiran justru malah menganulir imperatif Allah itu, sehingga sepenuhnya gagal diwujudkan menjadi kenyataan. Besarnya populasi kaum kikir hanya mengondisikan masyarakat terpuruk ke titik nadir sakit jiwa yang serius.

QS. Muhammad [47]:38
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.

Kekikiran yang merintangi terwujudnya kemaslahatan umum merupakan penzaliman manusia terhadap dirinya sendiri. Argumen filosofisnya jelas dan gamblang. Bahwa kemampuan manusia mengusahakan perolehan harta dalam jumlah besar tak pernah bisa dilepaskan dari anugerah dan karunia Allah. Itulah mengapa, kekayaan dalam realitas manusia bersumber dari Kemahakayaan Allah.

Kedermawanan manusia sangat diapresiasi Allah, sebab dengan kedermawan berarti manusia berupaya membuktikan kebenaran sifat rahman dan rahim Allah dalam realitas hidup yang kongkret. Tanpa kedermawanan, manusia kosong dari upaya-upaya pembuktian secara kongkrit bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan kedermawanan di tengah kancah kehidupan masyarakat, maka sesungguhnya seorang manusia merawat cinta Allah yang manifestasinya dalam peradaban dan kebudayaan menjauhkan manusia dari kezaliman.

QS. Al-Hadid [57]:23-24
* (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
* (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Jiwa kaum kikir adalah sombong atas kebanggaan diri sendiri yang subyektif narsistis serta mengajak manusia lain untuk juga bersikap kikir.

Masyarakat yang berwatak kikir adalah masyarakat yang alpa akan dua hal. Pertama, alpa terhadap makna fundamental keberhasilan, sehingga bergembira ria melampui batas. Kebersyukuran atas keberhasilan dengan sendirinya hilang lenyap dari keharibaan hidup masyarakat. Kedua, duka cinta yang melampui batas oleh keadaan jiwa yang meratapi kegagalan. Padahal, pada setiap kegagalan terpatri hikmah filosofis yang penting artinya bagi pendewasaan ruhani masyarakat.

Kesombongan terjadi tatkala keberhasilan diri sendiri dan kegagalan orang lain dipersepsi sebagai realitas yang hadir secara mutlak.

QS. Al-Maarij [70]: 19-21
* Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
* Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
* dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

Kekikiran menggiring manusia masuk ke dalam lubang hitam esensialisme tanpa eksistensialisme. Sehingga kekikiran ekuivalen dengan keluh kesah yang tiada tara. Pada giliran selanjutnya, terbentuk masyarakat yang semata esensialistik dengan ciri-ciri pokoknya sebagai berikut.

Pertama, jika manusia sukses meraih nikmat yang besar dari Allah, maka manusia kikir kepada sesamanya. Kedua, jika manusia diuji oleh Allah dengan kegagalan, maka sang manusia berkeluh kesah yang resonansinya dirasakan masyarakat.

Jika masyarakat penuh sesak oleh kehadiran kaum kikir dan kaum yang terbiasa berkeluh kesah, maka sesungguhnya tatanan hidup masyarakat berada di tubir jurang krisis sosial dan ekonomi. Secara prinsip, dua kaum ini mustahil bersenyawa membentuk sistem nilai kolektif yang memartabatkan kehidupan masyarakat. Dengan coraknya yang demikian itu, masyarakat mustahil kreatif dan produktif.[]

Jakarta, 3 Mei 2015

Friday, May 1, 2015

Filosofi Monoteisme

FILOSOFI MONOTEISME

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

Dalam perspektif Al-Qur'an, skema filosofis monoteisme mencakup tiga hal mendasar, yaitu: Monoteisme Eksistensialistik, Monoteisme Esensialistik, dan Monoteisme Negativistik.

I. Monoteisme Eksistensialistik

I.1. QS. Al-Anfal [8]:2
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Monoteisme merupakan situasi kejiwaan manusia yang utuh-menyeluruh dalam hal memberikan pembenaran, pengakuan dan kesaksian bahwa sesungguhnya Tauhid atau Keesaan Tuhan benar adanya. Kristalisasi atas situasi kejiwaan itu terejawantahkan secara riil ke dalam eksistensi manusia. Tanpa adanya pembenaran, pengakuan dan kesaksian terhadap monoteisme, manusia memang mampu membentuk eksistensi dalam realitas hidup duniawi. Tetapi eksistensi itu takkan pernah berada dalam derajat yang hakiki. Bahkan, eksistensi tersebut artifisial, semu, bahkan mewujud sebagai absurditas yang nihilistik.

Eksistensi hakiki dalam realitas hidup duniawi adalah eksistensi yang ditandai oleh sangat kuatnya kebersandaran para hamba yang bertauhid kepada Allah. Kebersandaran secara total kepada Allah itu lantas terajawantahkan sebagai pandangan dunia (Weltanschauung) yang holistik. Jejak langkah manusia bertauhid kongruwen dengan kehendak Tuhan untuk kemakmuran bumi berbasis kesalehan (QS. Al-Anbiya [21]: 105).

I.2. QS. Al-An'aam [6]:82
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Monoteisme tegak dengan prinsip filosofis yang jelas dan kongkrit. Bahwa monoteisme senantiasa bercorak atomistik, tak terbagi, tak terbelah, tak terurai. Itulah mengapa, monoteisme tidak bercampur baur dengan politeisme. Pilihan hidup atas monoteisme adalah opsi bebas untuk hanya berpihak pada monoteisme dan mengelakkan diri dari politeisme. Masuk dalam kategori pengelakan diri politeisme tersebut adalah purifikasi kehidupan dari kezaliman, kefasikan, kemunafikan, dan kedunguan.

Monoteisme dalam maknanya yang fundamental merupakan garansi bagi keamanan hidup manusia. Monoteisme adalah sumber keselamatan hidup manusia. Para penganut Tauhid adalah manusia yang mampu mendefinisikan dengan sangat jelas hakikat keamanan dirinya --- sebagai mahluk fana --- dalam berbagai dimensi kehidupan, terutama saat realitas hidup penuh sesak dengan berbagai macam kemelut. Monoteisme mengukuhkan eksistensi manusia untuk pembebasan diri dari belenggu-belenggu profanitas (QS. Al-A'raf [7]:196).

II. Monoteisme Esensialistik

II.1. QS. Al-Baqarah [2]:260
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam dimensi tertentu, manusia dituntut kritis memahami hakikat monoteisme. Kehendak manusia untuk mendapatkan pembuktian tentang kebenaran monoteisme acapkali justru malah terjebak ke dalam cara pandang kebenaran demonstratif. Monoteisme lalu dievaluasi hakikat kebenarannya berdasarkan prinsip-prinsip reifikasi yang materialistik. Keagungan monoteisme pada level imajinasi dan intelek lalu diluruhkan ke tingkat fisik. Inilah sebuah keadaan yang lebih tepat digambarkan sebagai esensialisme monoteistik. Semestinya, ada dan atau tidaknya kebenaran demonstratif, keyakinan manusia akan monoteisme tak pernah tergerus sedikit pun.

Terlampau keras sikap manusia untuk mendapatkan bukti-bukti kebenaran demonstratif berkenaan dengan keberadaan Allah justru malah menumpulkan intelektualitas manusia. Allah yang transenden dan sekaligus imanen sejatinya meniadakan tuntutan manusia untuk memahami Allah secara antropomorfik. Sebab hakikat Allah yang transenden telah sedemikian rupa beremanasi di alam semesta menjadi sesuatu yang imanen. Penentangan terhadap prinsip eksistensi hakiki Ilahi ini justru malah mencetuskan arogansi dalam jiwa manusia (QS. Al-A'raf [7]:133).

III. Monoteisme Negativistik

III.1. Al-Baqarah [2]:108
Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. 

Tantangan besar dalam kehidupan duniawi adalah ambigu manusia saat berdiri di antara dua pendulum jiwa, yaitu antara keimanan dan kekafiran. Rumitnya kehidupan duniawi cenderung menggoyahkan jiwa manusia. Hingga sampai pada satu titik di mana iman dalam keharibaan jiwa manusia berada dalam kondisi fluktuatif, naik dan turun (QS. Ash-Shu'ara [26]:174). Semua ini ujian besar bagi manusia untuk terus bersiteguh dengan iman dan menolak segala bentuk kekafiran.

Tatkala Weltanschauung manusia terjebak ke dalam kesadaran keliru bahwa sumber daya bumi terbatas dan kebutuhan manusia tak terbatas, maka dengan serta-merta manusia terjebak ke dalam pusaran transaksional monoteisme negativistik (QS. Al-Baqarah [2]:268). Manusia lalu dengan mudahnya menukar keimanan dengan kekafiran. Sesungguhnya, sikap yang benar àdalah berpijak pada pandangan filosofis, bahwa sumber daya bumi tak terbatas, tetapi kapasitas manusia terbatas untuk pengelolaan sumber daya bumi sehingga kapasitas tersebut mutlak dipertajam dan ditingkatkan melalui proses pensucian jiwa secara terus-menerus (QS. Al-Baqarah [2]:22; QS. Al-Baqarah [2]:245).

III.2. Ali Imran [3]:177
Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.

Tatkala manusia telah memilih opsi kafir dan kekafiran --- setelah mencampakkan iman --- maka struktur kesadaran yang terbentuk dalam diri sang manusia sepenuhnya bercorak monoteisme negativistik. Gagasan, ucapan dan tindakan yang melingkupi dirinya sepenuhnya anti-Tuhan, melawan Tuhan atau tergeliat sebagai tindakan oposisi terhadap eksistensi hakiki Tuhan. Manusia yang telah memilih jalan hidup kafir dan kekafiran adalah mereka yang terpelanting ke puncak-puncak kesombongan, tapi kesombongan itu sendiri takkan pernah sedikit pun mampu mengecilkan keagungan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan, kesombongan itu tak dapat menepis azab pedih di akhirat yang diberlakukan Allah sebagai balasan atas kekafiran manusia.

Keputusan manusia untuk menukar keimanan dengan kekafiran ternyata hanya dilandaskan pada alasan-alasan yang sesungguhnya artifisial. Jiwa setiap manusia mengakui, bahwa rahmat dan karunia Allah ditebarkan ke alam semesta berdasarkan hak Allah yang tak dapat diganggu gugat oleh siapa pun, yang tak dapat dioposisi oleh kekuatan apa pun. Manusia yang menolak hak Allah lantas mencetuskan protes hingga kemudian memilih jalan kafir dan kekafiran (QS. Al-Baqarah [2]:90).[]

Wednesday, March 25, 2015

Empat Format Kebenaran

EMPAT FORMAT KEBENARAN

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

I. Empat Format Kebenaran

(1) Kebenaran Naturalistik
(2) Kebenaran Simpatik
(3) Kebenaran Egoistik
(4) Kebenaran Interpretatif

II. Kebenaran Naturalistik

Kebenaran yang koherens dengan keseimbangan-keseimbangan alam. Kebenaran yang tidak mendistorsi ekosistem.

QS. Ar-Rum [30]: 41 menjelaskan kebenaran naturalistik tersebut dengan narasi kalimat: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

III. Kebenaran Simpatik

Kebenaran yang toleran terhadap kebenaran lain, tanpa mengkompromikan antara satu kebenaran dengan kebenaran lain secara eklektik. Seseorang yang memegang teguh suatu kebenaran tidak membenci orang lain atas dasar perbedaan pandangan tentang kebenaran.

Kebenaran Simpatik ini merupakan keniscayaan yang termaktub dalam QS. An-Nahl [16]: 125, dengan keindahan narasi sebagai berikut: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

IV. Kebenaran Egoistik

Kebenaran yang menolak secara keras kebenaran pihak lain atas dasar perbedaan substansi dan filosofi. Seseorang bersikap keras terhadap keberadaan orang lain berdasarkan perbedaan mahzab, pandangan dunia dan pemikiran.

Teks suci berkenaan dengan hal ini termaktub ke dalam QS. Asy-Syu'ara [42]: 8, dengan narasi: "Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan mereka satu umat, tetapi dia memasukkan orang-orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka pelindung dan penolong."

Teks suci ini mengklarifikasi, bahwa kebenaran egoistik pada diri manusia sesungguhnya menggerus hak Allah dalam hal penetapan eksistensi hakiki manusia.

V. Kebenaran Interpretatif

Kebenaran yang diperoleh melalui studi secara metodologis terhadap seluruh konsepsi kebenaran yang telah terkonstruksi oleh kalangan pemikir dan filosof. Seluruh konsepsi kebenaran diperlakukan secara obyektif sebagai sasaran studi.

Teks suci berkenaan dengan hal ini termaktub dalam QS Al-Baqarah [2]: 147 dengan narasi sebagai berikut: "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."

Mengacu pada teks suci ini berarti, kebenaran mutlak dicari melalui upaya riset secara saksama. Kebenaran naturalistik dan kebenaran simpatik dikuak seluruh hakikatnya, hingga kemudian menghasilkan kesimpulan yang bermakna.

VI. Catatan Kritis

Intoleransi dalam berbagai bentuknya yang pada derajat tertentu diwarnai kekerasan sesungguhnya bertitik tolak dari Kebenaran Egoistik. Baik dalam gerakan politik maupun dalam gerakan berlabel agama, Kebenaran Egoistik berpeluang memporak-porandakan kehidupan umat manusia.

Masuk ke dalam cakupan Kebenaran Egoistik adalah pengkafiran, pembidahan, tuduhan sesat dan terorisme.[]

Saturday, March 21, 2015

Narasi

NARASI

QS. Al-An'aam [6]: 115
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

~ Kalimat-kalimat Tuhan merupakan narasi keabadian yang takkan punah oleh perguliran waktu, pergeseran masa dan pergantian zaman. Sehingga karena itu, kalimat-kalimat Tuhan merupakan referensi dasar tegaknya peradaban dan kebudayaan adiluhung. Kalimat-kalimat Tuhan merupakan dimensi yang tak terpisahkan dari dialektika historis dalam kompleksitas humanisme di Planet Bumi.

~ Jalan keselamatan hidup manusia terbentang panjang melalui penyingkapan makna yang tersembunyi dalam narasi-narasi Al-Quran.

QS. Al-Kahf [18]: 109
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)"."

~ Kalimat-kalimat Tuhan merupakan teori ilmu (epistemologi) yang luas tanpa batas. Untuk keperluan hidup di bumi, kalimat-kalimat Tuhan merupakan sumber mata air kecemerlangan bagi tercetusnya pencerahan hidup umat manusia.

~ Manusia diperhadapkan dengan dahaga epistemologi jika abai dan mengabaikan kalimat-kalimat Tuhan. Eksistensi manusia bahkan merosot derajatnya ke tingkat esensi binatang manakala sang manusia maninggalkan kalimat-kalimat Tuhan.

QS. Luqman [31]: 27
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

~ Agar tidak terpuruk menjadi paradigma bercorak parsial-partikular, maka teori ilmu (epistemologi) mutlak bertitik tolak dari kalimat-kalimat Tuhan. Melalui kesungguhan kehendak dan itikad baik, yang didukung oleh kegiatan riset dan pengembangan, maka kalimat-kalimat Tuhan mutlak diformulasi menjadi epistemologi.

~ Krisis ilmu pengetahuan terjadi justru tatkala manusia merumuskan dan menetapkan berbagai macam epistemologi yang substansinya mengingkari hakikat yang termaktub dalam kalimat-kalimat Tuhan. Setiap epistemologi yang fundamennya bertentangan atau menyimpang dari hikmah yang termaktub dalam kalimat-kalimat Tuhan adalah epistemologi yang berwatak iblis serta rentan dilanda krisis.

QS. Ibrahim [14]: 24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,"

~ Narasi-narasi yang dikonstruksi oleh mahluk-mahluk berakal sesungguhnya mutlak bersifat prosaik, yaitu memiliki kedalaman makna dan sekaligus inspiratif bagi terwujudnya peradaban dan kebudayaan adiluhung. Dengan merujuk secara saksama kepada firman Tuhan, maka mahluk-mahluk berakal memiliki kapasitas besar yang tiada tara untuk mengkonstruksi narasi-narasi prosaik.

~ Hanya hedonisme, egosentrisme dan pragmatisme yang mengondisikan mahluk-mahluk berakal abai terhadap kapasitas dirinya dalam hal menghasilkan narasi-narasi prosaik.

QS. Ibrahim [14]: 26
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun."

~ Kejahatan endap dalam narasi-narasi yang buruk. Melalui narasi yang buruk,  maka manusia menghina, mengumpat dan mengolok-olok kehidupan dan sesamanya. Tercetusnya narasi-narasi buruk merupakan bukti kuatnya pengaruh iblis dalam dinamika peradaban dan kebudayaan. Maka, perjuangan hidup umat manusia adalah membebaskan dirinya dari narasi-narasi buruk.[]

Jakarta, 21 Maret 2015
Salam filosofis
Anwari WMK

Saturday, February 28, 2015

Filosofi Batu

FILOSOFI BATU

QS. Al Baqarah [2]: 74

مَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan."

Iluminasi Batu
# Sebagian di antaranya mengalir air sungai dari padanya.
# Sebagian di antaranya ada yang terbelah lalu keluar mata air dari padanya.
# Sebagian di antaranya meluncur jatuh karena takut kepada Allah.

Frasa Filosofis Batu
# Jalur aliran sungai
# Sumber mata air sungai
# Jatuh dari posisi esensialnya menuju derajat eksistensial

Gradasi Kemaslahatan Manusia
# Sublimasi kehidupan yang semula cadas, berubah mengayomi semesta hayat alam semesta
# Diri sang manusia menjadi jalur mengalirnya peradaban adiluhung
# Diri sang manusia menjadi sumber mata air kecemerlangan peradaban adiluhung
# Diri sang manusia mampu mengatasi cengkraman pamrih duniawi, lantaran hayat dan karyanya dalam peradaban merupakan manifestasi dari keberserahan diri secara total kepada Allah.

Jakarta, 28 Februari 2015
ANWARI WMK

Saturday, March 29, 2014

TUHAN MENGHARGAI MANUSIA

TUHAN MENGHARGAI MANUSIA

Oleh Anwari WMK

Pesan Al Qur’an
  • “Tidak ada tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Saba [34]: 3).
  • “Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S. Saba [34]: 4).


Rahasia
  • Allah mengetahui segala rahasia, baik yang tersembunyi di langit, maupun rahasia yang tersembunyi di bumi.
  • Allah mengetahui seluruh aspek empiris yang terhambar di langit maupun di bumi, serta aspek-aspek empiris yang terpapar dalam bentangan ruang antara langit dan bumi.
  • Segala realitas di alam semesta tercatat secara sistematis di Lauh Mahfuzh, sehingga tidak ada fenomena dan noumena di alam semesta terjadi dengan sendirinya yang serba kebetulan berdiri sebagai esensi di luar ilmu Allah.


Hakikat Manusia
  • Beriman seutuhnya kepada Allah SWT.
  • Beramal baik untuk tegaknya peradaban adiluhung.
  • Allah mengetahui seluruh hakikat keberimanan dan amal saleh manusia.


Antara Allah dan Manusia
  • Iman dan amal saleh melekat dalam eksistensi manusia serta manusia menjaga eksistensi tersebut sebagai suatu bentuk konfirmasi terhadap keberadaan Allah, Sang Pemilik segala rahasia dan ilmu pengetahuan.
  • Keagungan eksistensi manusia dicapai sebagai akibat dari utuhnya kesadaran manusia terhadap Tuhan yang mengetahui segala rahasia.
  • Pada titik inilah Allah menghargai manusia (lihat Gambar).