Saturday, May 2, 2015

Problematika Personal-Interpersonal Materialisme

PROBLEMATIKA PERSONAL - INTERPERSONAL MATERIALISME

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

Materialisme adalah pandangan dunia (Weltanschauung) yang hanya menilai penting kejayaan materi malampaui pentingnya keagungan ruhani. Tatkala jiwa individu dan masyarakat terbelenggu ke dalam materialisme yang tiada tara maka senarai persoalan muncul ke permukaan serta turut mendistorsi peradaban dan kebudayaan. Studi hermeneutik terhadap Al-Qur'an menunjukkan,  bahwa materialisme memunculkan sengkarut kembar yang dapat ditaksonomikan menjadi "problematika personal" dan "problematika interpersonal".

I. Problematika Personal

QS. Ali Imran [3]:180
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Sebagai realitas yang tak terpisahkan dari materialisme, bakhil atau kebakhilan merupakan keburukan, oleh karena memang tidak ada sedikitpun ruang kebajikan dalam setiap kebakhilan. Tak dapat dibantah, kebakhilan merupakan pengingkaran terhadap hakikat kepemilikan Allah atas keberadaan alam semesta. Kebakhilan adalah sikap penentangan manusia terhadap eksistensi hakiki Allah sebagai pemilik alam semesta. Agenda-agenda kebajikan yang bermakna signifikan bagi pemartabatan kemanusiaan yang sesungguhnya maslahat dalam jangka panjang, tiba-tiba terbengkalai akibat merajalelanya kebakhilan.

QS. Al-Ahzab [33]:19
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Dalam strukturalisme sosial yang kompleks, kaum bakhil adalah manusia atau himpunan manusia yang dilanda persoalan kekacauan jiwa akibat sangat kuatnya penolakan mereka terhadap kebajikan berdasarkan alasan-alasan materi. Sebagai musuh kebajikan, jiwa kaum bakhil hanya adaptif terhadap kejahatan yang bergerak secara subtil, atau kejahatan yang mencuat dengan tampilan serba lembut dan tampak elegan di permukaan.

Dalam sekuen waktu tertentu, strukturalisme sosial mengalami keterguncangan, dan dalam sekuen waktu yang lain strukturalisme sosial berada dalam keadaan stabil. Dalam situasi keterguncangan strukturalisme sosial, jiwa orang-orang bakhil dilanda kepanikan, sehingga tampak berpihak pada kebajikan meski sesungguhnya menolaknya. Dalam situasi stabilnya strukturalisme sosial, kepongahan kaum bakhil ditandai oleh produksi wacana secara super canggih untuk mencaci maki kebajikan. Jejak langkah orang-orang bakhil terkondisikan untuk membenci dan melawan kebajikan.

QS. Al-Adiyat [100]:6-8
* sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
* dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
* dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.

Dalam kaitannya dengan bakhil dan kebakhilan, problematika personal manusia sesungguhnya bercorak multidimensional, namun tersimpulkan dalam kata kunci: cinta harta. Problematika personal yang bercorak multidimensional itu tampak jelas pada dua persoalan berikut ini.

Pertama, kebakhilan merupakan aksiologi iblisiah lantaran hadir ke tengah kancah kehidupan sebagai sebuah wujud keingkaran manusia terhadap Allah. Ini karena, kaum bakhil memilih opsi kehidupan --- merintangi terwujudnya kebajikan --- yang sama sekali tak direstui oleh Tuhan. Kedua, kaum bakhil merupakan saksi atas dirinya sendiri sebagai figur dan entitas jiwa yang dengan sadar menentang imperatif kebajikan yang niscaya Ilahiah melalui jalan kedermawanan.

Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa bakhil dan kebakhilan merupakan sumber destruksi yang secara telak merintangi manusia masuk ke dalam paradigma kemaslahatan serta menghalangi manusia masuk ke dalam aksi kebajikan.

QS. Al-Lail [92]:8-11
* Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
*  serta mendustakan pahala terbaik,
* maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
* Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.

Dalam jiwa orang-orang bakhil terpatri asumsi bahwa mereka berada dalam keadaan cukup dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk mengatasi segala macam tantangan hidup. Kebakhilan merupakan kelanjutan logis dari percaya diri berlebihan menghadapi segala bentuk dialektika yang terpanggungkan di bumi. Kebakhilan dalam konteks ini berada dalam spektrum subyektivisme atas kemampuan diri sendiri, dengan memposisikan dunia dengan segala isinya semata sebagai obyek eksploitasi.

Pada jiwa kaum bakhil tergusur total prinsip kehidupan transenden yang musti berada dalam bentangan tarik-menarik antara harapan dan kecemasan, yaitu harapan bahwa dosa-dosa akan diampuni Tuhan dan kecemasan kalau-kalau segala kebajikan di dunia ditolak Tuhan. Kaum bakhil di sepanjang sejarah bumi telah kehilangan unsur penting dalam kejiwaan, yakni terpeliharanya tegangan --- yang sesungguhnya kreatif --- antara harapan dan kecemasan. Hingga pada satu titik nadir distorsi jiwa, kaum bakhil tak memandang signifikan makna pahala.

Personalitas kaum bakhil yang sedemikian rupa itu dieksplisitkan Tuhan sebagai personalitas yang nista di akhirat, sebab terlunta-lunta dalam perjalanan yang sukar. Bahkan, besarnya harta yang dikuasai kaum bakhil bukan saja tak berguna dalam konteks realitas akhirat, tapi juga tak berguna dalam konteks realitas duniawi.

QS. At-Takwir [81]:24
Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.

Dimensi-dimensi transenden penentu ketepatan eskatologi manusia sesungguhnya merupakan ontologi hikmah yang niscaya dipedagogikan ke tengah kancah kehidupan masyarakat. Nabi telah menunjukkan terlaksananya pedagogi aspek-aspek transenden itu melalui ucapan dan tindakan. Ahli-ahli hikmah pada era pasca Nabi adalah minoritas jenius yang memikul beban besar penyampaian pengetahuan transenden. Mereka masuk ke dalam kategori kaum bakhil jika ternyata menyembunyikan hikmah-hikmah transenden hanya untuk dirinya sendiri.

II. Problematika Interpersonal

QS. Al-Baqarah [2]:268
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam relasi interpersonal berdasarkan tata susunan masyarakat, kikir merupakan sikap hidup yang keliru oleh ekstremnya kekhawatiran jatuh miskin. Dengan berpijak pada prinsip hidup kikir, sukma kedermawanan tercerabut hingga ke akar-akarnya dalam totalitas tatanan hidup masyarakat. Inilah keadaan yang tidak memungkinkan tumbuhnya solidaritas sosial serta memustahilkan terbentuknya caring siciety. Tata susunan masyarakat malah penuh sesak oleh Weltanschauung akuisme.

Pembacaan secara hermeneutik terhadap Al-Qur'an menunjukkan, bahwa kikir terpatri menjadi Weltanschauung oleh kekuatan besar setan dalam peradaban manusia dan dalam kebudayaan manusia. Setan memancangkan agenda untuk sepenuhnya mempengaruhi jiwa masyarakat agar kikir dikembangkan sedemikian rupa sebagai mekanisme pertahanan diri. Formasi Weltanschauung yang disuguhkan setan adalah menggiring manusia untuk sepenuhnya takut berhadapan dengan nestapa ketiadaan harta. Langkah pragmatis mengatasi ancaman ketiadaan harta adalah hidup berdasarkan prinsip kikir. Sehingga dengan demikian, setan meraih kemenangan besar menundukkan manusia, melalui tumbuhnya watak kikir dalam diri manusia.

QS. An-Nisa' [4]:36-37
* Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
* (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.

Sesungguhnya, tak ada hakikat monoteisme dalam kekikiran. Sebab, monoteisme meniscayakan terejawantahkannya kedermawanan. Antara monoteisme dan kedermawanan terentang tali merah yang mempersambungkan keduanya. Karena Allah Maha Pemurah maka kepercayaan manusia pada keesaan Allah meniscayakan sang manusia untuk mengadopsi sifat rahman dan rahim Tuhan. Tanpa prinsip ini maka sesungguhnya pengakuan terhadap monoteisme hanyalah formalistik belaka.

Sementara antara monoteisme dan kekikiran tak ada sedikit pun keterjalinan hubungan. Kikir dan kekikiran sepenuhnya berwatak setan, sehingga berada dalam posisi berlawanan dengan monoteisme. Sekali relasi interpersonal berpijak pada kekikiran, maka seketika itu pula masyarakat mengada (being) dengan bersandar kepada setan, atau menjadi bagian inherent dari keberadaan setan. Itulah mengapa, pribadi-pribadi yang kikir membenci kedermawanan, serta tak kenal lelah menyebar luaskan kekikiran agar sepenuhnya terkukuhkan sebagai pandangan dunia dalam peradaban dan kebudayaan untuk tujuan besar menyembunyikan karunia Allah di tengah kancah kehidupan masyarakat.

QS. At-Taubah [9]:76
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Dalam ruang publik, personalitas-personalitas kikir dan kekikiran takkan pernah jedah membendung karunia Allah mengaliri sungai-sungai kehidupan. Personalitas-personalitas kikir adalah para figur yang tidak rela menatap kenyataan bahwa karunia Allah menyebar secara luas di semesta kehidupan. Sehingga dengan demikian, kikir dan kekikiran sama dan sebangun maknanya dengan hegemoni dan dominasi karunia Allah di arena kehidupan segelintir orang. Sementara sebagian terbesar manusia terhalangi untuk dapat menikmati karunia Allah.

QS. Al-Isra' [17]:100
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.

Kekikiran adalah faktor yang merintangi diseminasi kebajikan antar sesama manusia. Malah, kekikiran mencetuskan pertarungan yang tak berkesudahan di antata sesama manusia atas dasar ketamakan. Secara demikian, muncul ideologi homo homini lupus, manusia memangsa sesamanya. Dari sini pula tersimpulkan, bahwa ketidakadilan selalu bermula dari tidak meratanya persebaran rahmat Allah oleh banalitas segelintir manusia dalam tata susunan masyarakat.

QS. Al-Furqan [25]:67
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dua pendulum jiwa yang niscaya dihindari masyarakat adalah hidup yang berlebihan dan hidup yang dipenuhi oleh kekikiran. Pengelakan terhadap dua hal ini merupakan prasyarat bagi masyarakat untuk menemukan jalan keselamatan hidup kolektif kembali kepada Allah secara bermartabat. Hidup berlebihan memiliki makna setara dengan kekikiran, sebab keduanya sama-sama mensterilisasi masyarakat dari kebajikan.

Konsumerisme dalam kehidupan masyarakat memunculnya dua macam respons pada tingkat individu, yaitu respons hura-hura dan respons kekikiran. Jika respons yang pertama, mengkonfirmasi konsumerisme, maka respons yang kedua merupakan negativitas terhadap konsumerisme. Dua format respons ini potensial mencetuskan krisis, sebab perekonomian terombang-ambing ke dalam gelombang inflasi dan deflasi.

QS. Muhammad [47]:37
Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.

Kekikiran merupakan penentangan terhadap kehendak Allah bagi terwujudnya kebajikan. Allah senantiasa menuntut manusia berkorban harta dan jiwa untuk keharusan yang niscaya terwujudnya kebajikan. Tetapi, kikir dan kekikiran justru malah menganulir imperatif Allah itu, sehingga sepenuhnya gagal diwujudkan menjadi kenyataan. Besarnya populasi kaum kikir hanya mengondisikan masyarakat terpuruk ke titik nadir sakit jiwa yang serius.

QS. Muhammad [47]:38
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.

Kekikiran yang merintangi terwujudnya kemaslahatan umum merupakan penzaliman manusia terhadap dirinya sendiri. Argumen filosofisnya jelas dan gamblang. Bahwa kemampuan manusia mengusahakan perolehan harta dalam jumlah besar tak pernah bisa dilepaskan dari anugerah dan karunia Allah. Itulah mengapa, kekayaan dalam realitas manusia bersumber dari Kemahakayaan Allah.

Kedermawanan manusia sangat diapresiasi Allah, sebab dengan kedermawan berarti manusia berupaya membuktikan kebenaran sifat rahman dan rahim Allah dalam realitas hidup yang kongkret. Tanpa kedermawanan, manusia kosong dari upaya-upaya pembuktian secara kongkrit bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan kedermawanan di tengah kancah kehidupan masyarakat, maka sesungguhnya seorang manusia merawat cinta Allah yang manifestasinya dalam peradaban dan kebudayaan menjauhkan manusia dari kezaliman.

QS. Al-Hadid [57]:23-24
* (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
* (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Jiwa kaum kikir adalah sombong atas kebanggaan diri sendiri yang subyektif narsistis serta mengajak manusia lain untuk juga bersikap kikir.

Masyarakat yang berwatak kikir adalah masyarakat yang alpa akan dua hal. Pertama, alpa terhadap makna fundamental keberhasilan, sehingga bergembira ria melampui batas. Kebersyukuran atas keberhasilan dengan sendirinya hilang lenyap dari keharibaan hidup masyarakat. Kedua, duka cinta yang melampui batas oleh keadaan jiwa yang meratapi kegagalan. Padahal, pada setiap kegagalan terpatri hikmah filosofis yang penting artinya bagi pendewasaan ruhani masyarakat.

Kesombongan terjadi tatkala keberhasilan diri sendiri dan kegagalan orang lain dipersepsi sebagai realitas yang hadir secara mutlak.

QS. Al-Maarij [70]: 19-21
* Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
* Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
* dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

Kekikiran menggiring manusia masuk ke dalam lubang hitam esensialisme tanpa eksistensialisme. Sehingga kekikiran ekuivalen dengan keluh kesah yang tiada tara. Pada giliran selanjutnya, terbentuk masyarakat yang semata esensialistik dengan ciri-ciri pokoknya sebagai berikut.

Pertama, jika manusia sukses meraih nikmat yang besar dari Allah, maka manusia kikir kepada sesamanya. Kedua, jika manusia diuji oleh Allah dengan kegagalan, maka sang manusia berkeluh kesah yang resonansinya dirasakan masyarakat.

Jika masyarakat penuh sesak oleh kehadiran kaum kikir dan kaum yang terbiasa berkeluh kesah, maka sesungguhnya tatanan hidup masyarakat berada di tubir jurang krisis sosial dan ekonomi. Secara prinsip, dua kaum ini mustahil bersenyawa membentuk sistem nilai kolektif yang memartabatkan kehidupan masyarakat. Dengan coraknya yang demikian itu, masyarakat mustahil kreatif dan produktif.[]

Jakarta, 3 Mei 2015

No comments:

Post a Comment