Thursday, May 21, 2015

PARAMETER KEHIDUPAN

Anotasi Filosofis
Anwari WMK

I. Prolog

SALAH satu frasa filsofis yang bercorak multidimensional dalam Al-Qurán adalah ukuran. Dalam narasi Al-Qurán, ukuran bertautan erat dengan begitu banyak aspek. Dengan frasa filosofis ukuran, sebagaimana termaktub dalam Al-Qurán, Allah SWT menyingkapkan suatu hakikat, bahwa realitas hidup umat manusia di bumi sesungguhnya berwatak holistik-komprehensif. Melalui pembacaan secara filosofis terhadap frasa ukuran, maka teridentifikasikan adanya parameter-parameter kehidupan yang bersifat niscaya.

II. Epistemologi Ilahiah

Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. ~ QS. Al-Hijr [15]:21.

Sebagai hakikat yang imanen dan transenden, keberadaan Tuhan ditandai oleh: [1] Kejelasan khazanah tentang alam semesta, [2] Keutuhan epistemologi tentang alam semesta. Kejelasan khazanah dan keutuhan epistemologi itu bersifat superlatif, tak tertandingi oleh khazanah dan epistemologi lain. Khazanah dan epistemologi Ilahiah itu lalu menetapkan arti siginifikan segala ukuran, dan setiap ukuran memiliki kejelasan geneologi.

Berpijak pada adanya puspa ragam ukuran itulah lantas Tuhan berkehendak menciptakan alam semesta. Sebagai akibatnya, segala macam kemengadaan di alam semesta memiliki ukuran yang clear and distinct.

III. Alam Semesta

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. ~ QS. Al Qamar [54]:49.

Mahluk atau kemahlukan mencakup dua kategori pokok, yaitu: [1] Substansi dengan bentuk, dan [2] Substansi tanpa bentuk. Mahluk dalam kategori substansi dengan bentuk adalah malaikat, jinn, iblis dan manusia, binatang, tumbuhan, partikel, molekul, alam kosmos dan lain-lain. Mahluk dalam kategori substansi tanpa bentuk adalah jiwa, ruh, imajinasi, intelek dan cahaya.

Mahluk dengan dua macam kategori itu mengada di alam semesta atau bahkan berdialektika di alam semesta. Variabel tunggal yang mensetarakan esensi seluruh mahluk adalah ukuran atau berlakunya ukuran. Dengan demikian, tak ada mahluk atau kemahlukan jika tidak dalam rangka ukuran. Dalam format apa pun, mahluk dan kemahlukan selalu terdeterminasi oleh ukuran yang secara azali memang telah ditetapkan Tuhan. Sebaliknya, hanyalah hakikat Tuhan merupakan eksistensi tanpa ukuran. Itu karena, keberadaan Tuhan memang tak terukur atau tak dapat diukur dengan takaran apa pun.

Konsekuensi filosofis dari argumen ini dapat disimak dari adanya saling hubungan yang niscaya antara rincian dan susunan. Ketersusunan segala rincian merupakan akibat logis dari adanya ukuran atau berlakunya ukuran. Manakala tak ada ukuran, maka segala macam rincian mustahil saling bersenyawa membentuk susunan-susunan.

IV. Referensi Transenden

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.[1] yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.[2] ~ QS. Al Furqaan [25]:1-2.

Segala sesuatu di alam semesta memiliki ukuran atas dasar: [1] Kemahakuasaan Allah di langit dan di bumi, [2] Moneteisme Allah yang seuutuhnya, [3] Penciptaan Allah atas segala sesuatu. Terbentuknya ukuran merupakan konfirmasi atas semua itu. Dan referensi tentang makna ukuran yang sedemikian rupa itu berpijak pada kejelasan referensi, yaitu terdedahkan dalam paparan filosofis Al-Qurán.

Sebagai referensi transenden, penjelasan Al-Qurán tentang segala macam ukuran dan makna seluruh ukuran merupakan penjelasan yang mengandung hikmah filosofis. Maka, upaya penemuan makna ukuran pada tingkat fenomenologis dan hermeneutik meniscayakan diberlakukannya pembacaaan terhadap Al-Qurán.

V. Ruang-Waktu

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ~ QS. Al Muzzammil [73]:20.

Selama hayat manusia masih mengada (being) di bumi, maka manusia terus-menerus terdeterminasi secara esensial oleh ruang-waktu. Tetapi secara eksistensial, ruang waktu itu sendiri terdeterminasi oleh waktu-waktu peribadatan manusia. Dalam keseluruhan ruang-waktu, ritme waktu peribadatan merupakan mutiara kehidupan bermahkota keagungan makna. Itulah mengapa, hanya melalui peribadatan, ruang waktu benar-benar bersenyawa dengan eksistensi manusia. Tanpa peribadatan, maka manusia hanya mampu being dalam ruang-waktu. Tapi dengan peribadatan, ruang-waktu being  dalam diri manusia.

Tuhan menetapkan ukuran waktu, agar peribadatan mahluk benar-benar berada dalam spektrum yang dapat diperhitungkan dan sekaligus dapat dikelola secara humanistik. Diferensiasi antara siang dan malam merupakan takaran pasti atas waktu agar jiwa manusia terlatih menyadari secara asosiatif – bukan secara monoton –hakikat segala kebajikan yang inherent dalam peribadatan. Hanya saja, kemantapan jiwa manusia menalar makna dan hakikat waktu mempersyaratkan sang manusia untuk sepenuhnya dekat dengan Al-Qurán. Bahkan kedekatan manusia dengan Al-Qurán kian terasa relevan tatkala sang manusia berada dalam keadaan sakit, dalam proses dialektika pencarian dan penemuan kebenaran, dan tatkala tengah berada di tengah-tengah kancah medan jihad.

Ukuran (waktu) dalam perspektif eksistensial di atas merupakan atmosfer filosofis bagi jiwa yang justru mengondisikan manusia mampu mencerap hikmah-hikmah transenden dari aksiologi shalat, zakat dan pengorbanan – dalam format memberikan pinjaman terbaik kepada Allah.

Demikian hakikat ukuran sebagai parameter kompleks kehidupan manusia.

VI. Ontologi Bumi

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. ~ QS. Al-Hijr [15]:19.

Di jagat semesta, bumi merupakan zona hunian yang ontologi-ontologinya bersenyawa dengan hayat umat manusia. Atas dasar alasan itu maka seluruh ontologi yang tersedia di bumi memiliki ukuran atau kejelasan ukuran. Bahkan berlakunya ukuran atas setiap ontologi memposisikan bumi sebagai zona bagi mewujudnya peradaban dan kebudayaan adiluhung.

Keterhamparan bumi juga menjadi sesuatu yang niscaya oleh adanya ontologi-ontologi yang memiliki klaritas ukuran. Gunung dan tumbuhan merupakan ontologi yang relevan dengan keterhamparan bumi. Makna dari keberadaan gunung dan tumbuhan justru karena keduanya memiliki kejelasan ukuran.

VII. Bumi yang Kosmologis

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. ~ QS. Al Mu'minuun [23]:18.

Air merupakan ontologi yang berfungsi signifikan memperhubungkan langit dan bumi. Dalam konteks ontologi air, langit berkedudukan sebagai geneologinya dan bumi berkedudukan sebagai zona tata kelolanya. Jika langit pemberi, maka bumi penerima. Pola relasi inilah yang mendedahkan bumi berdimensi kosmologis. Artinya, keberadaan bumi mustahil dilepaskan dari dimensi-dimensi kosmologis di alam semesta.

Dengan pola relasi itu pula, maka dapat dimengerti jika keterkiriman air hujan dari langit menuju bumi, senantiasa memiliki ukuran, atau didasarkan pada ukuran. Maknanya secara filosofis adalah ini: relasi antara pemberi dan penerima dalam konteks mahluk dan kemahlukan mutlak merujuk pada arti penting ukuran, mengacu pada ukuran. Seperti buruknya tata kelola air di bumi akibat kerusakan ekosistem telah sedemikian rupa menjadi air hujan salah satu sebab terjadinya banjir. Jika dalam keadaan demikian ternyata air hujan datang menguyur bumi tanpa ukuran – indefinit – maka dapat dipastikan timbul malapetaka tak terperikan di bumi.

VIII. Cipta Karsa Manusia

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. ~ Asy Syuura [42]:27.

Tuhan telah menetapkan ukuran, bahwa rezeki yang diberikan kepada manusia tidak bersifat indefinit, tetapi justru definit. Sebab, bilamana rezeki bersifat indefinit, timbul malapetaka besar dalam hayat manusia di tengah pusaran peradaban dan kebudayaan. Dengan rezeki melimpah ruah tak bertepi dalam kehidupan seorang manusia, maka jiwa sang manusia berada dalam keadaan ringkih, sehingga hanya persoalan waktu saja jika kemudian manusia sepenuhnya tergelincir dalam kefasikan, kejahatan dan absurditas. Bahkan, manusia berada dalam tendensi untuk hanya menzalimi dirinya sendiri tatkala tengah berada di tengah keberlimpahan rezeki yang tak bertepi.

Epistemologi Allah tentang rezeki untuk manusia memiliki kejelasan prinsip filosofis. Epistemologi Allah menetapkan ukuran rezeki yang ditebarkan untuk kehidupan umat manusia di bumi. Epistemologi ini terkukuhkan sebagai keniscayaan yang bersifat transenden. Rezeki terumuskan sebagai pemberian Allah kepada manusia dengan mengacu pada cipta karsa manusia yang bernilai maslahat bagi realitas hidup berdurasi jangka panjang.

IX. Humanisme

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. ~ QS. Ar Ra'd [13]:8.

Kompleksitas reproduksi manusia merupakan semiotika berkenaan dengan pentingnya humanisme. Melalui proses reproduksi, manusia mampu merawat harapan untuk melanjutkan dinamika kebudayaan yang huamnsitik di bumi. Demikian pentingnya aspek reproduksi bagi humanisme, Tuhan mensupervisi secara langsung proses reproduksi manusia. Untuk keperluan supervisi itu, maka proses reproduksi manusia masuk ke dalam cakupan filosofi ukuran, persis sebagaimana dikemukan Al-Qur’an.

X. Epilog

Peradaban dan kebudayaan umat manusia di bumi membutuhkan kejelasan parameter dalam konteks:


  • Keutuhan epistemologi yang mendasari berlakunya segala macam ukuran.
  • Unifikasi keberadaan berbagai macam mahluk melalui ukuran yang spesifik.
  • Kejelasan referensi untuk mengargumentasikan bahwa ukuran atas keberadaan seluruh mahluk merupakan parameter transenden
  • Ibadah – manusia kepada Tuhan – merupakan ukuran paling substansial berkenaan dengan being ruang waktu.
  • Seluruh ontologi being di bumi berdasarkan ukuran yang clear and distinct.
  • Relasi antara bumi dan alam semesta yang berdimensi kosmologis memiliki kerangka logis berupa ukuran.
  • Ukuran rezeki manusia didasarkan pada takaran cipta karsa dalam keseluruhan karya manusia.
  • Ukuran atas humanisme diberlakukan demi menjamin lestarinya kemaslahatan hidup umat manusia.[]




[1] Maksudnya jin dan manusia.
[2] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

No comments:

Post a Comment