Anwari WMK
I. Prolog
SALAH satu frasa filsofis yang
bercorak multidimensional dalam Al-Qurán adalah ukuran. Dalam narasi Al-Qurán, ukuran
bertautan erat dengan begitu banyak aspek. Dengan frasa filosofis ukuran, sebagaimana termaktub dalam
Al-Qurán, Allah SWT menyingkapkan suatu hakikat, bahwa realitas hidup umat
manusia di bumi sesungguhnya berwatak holistik-komprehensif. Melalui pembacaan
secara filosofis terhadap frasa ukuran, maka
teridentifikasikan adanya parameter-parameter kehidupan yang bersifat niscaya.
II. Epistemologi Ilahiah
Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan
Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. ~ QS.
Al-Hijr [15]:21.
Sebagai hakikat yang imanen
dan transenden, keberadaan Tuhan ditandai oleh: [1] Kejelasan khazanah tentang
alam semesta, [2] Keutuhan epistemologi tentang alam semesta. Kejelasan
khazanah dan keutuhan epistemologi itu bersifat superlatif, tak tertandingi
oleh khazanah dan epistemologi lain. Khazanah dan epistemologi Ilahiah itu lalu
menetapkan arti siginifikan segala ukuran,
dan setiap ukuran memiliki kejelasan
geneologi.
Berpijak pada adanya puspa
ragam ukuran itulah lantas Tuhan
berkehendak menciptakan alam semesta. Sebagai akibatnya, segala macam
kemengadaan di alam semesta memiliki ukuran
yang clear and distinct.
III. Alam Semesta
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukuran. ~ QS. Al Qamar [54]:49.
Mahluk atau kemahlukan
mencakup dua kategori pokok, yaitu: [1] Substansi dengan bentuk, dan [2]
Substansi tanpa bentuk. Mahluk dalam kategori substansi dengan bentuk adalah
malaikat, jinn, iblis dan manusia, binatang, tumbuhan, partikel, molekul, alam
kosmos dan lain-lain. Mahluk dalam kategori substansi tanpa bentuk adalah jiwa,
ruh, imajinasi, intelek dan cahaya.
Mahluk dengan dua macam
kategori itu mengada di alam semesta atau bahkan berdialektika di alam semesta.
Variabel tunggal yang mensetarakan esensi seluruh mahluk adalah ukuran atau berlakunya ukuran. Dengan demikian, tak ada mahluk
atau kemahlukan jika tidak dalam rangka ukuran.
Dalam format apa pun, mahluk dan kemahlukan selalu terdeterminasi oleh ukuran yang secara azali memang telah
ditetapkan Tuhan. Sebaliknya, hanyalah hakikat Tuhan merupakan eksistensi tanpa
ukuran. Itu karena, keberadaan Tuhan memang
tak terukur atau tak dapat diukur dengan takaran apa pun.
Konsekuensi filosofis dari
argumen ini dapat disimak dari adanya saling hubungan yang niscaya antara
rincian dan susunan. Ketersusunan segala rincian merupakan akibat logis dari
adanya ukuran atau berlakunya ukuran. Manakala tak ada ukuran, maka segala macam rincian
mustahil saling bersenyawa membentuk susunan-susunan.
IV. Referensi Transenden
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al
Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada
seluruh alam.[1] yang kepunyaan-Nya-lah
kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu
bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia
menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.[2] ~ QS. Al Furqaan [25]:1-2.
Segala sesuatu di alam semesta
memiliki ukuran atas dasar: [1]
Kemahakuasaan Allah di langit dan di bumi, [2] Moneteisme Allah yang
seuutuhnya, [3] Penciptaan Allah atas segala sesuatu. Terbentuknya ukuran merupakan konfirmasi atas semua
itu. Dan referensi tentang makna ukuran
yang sedemikian rupa itu berpijak pada kejelasan referensi, yaitu terdedahkan
dalam paparan filosofis Al-Qurán.
Sebagai referensi transenden,
penjelasan Al-Qurán tentang segala macam ukuran
dan makna seluruh ukuran merupakan
penjelasan yang mengandung hikmah filosofis. Maka, upaya penemuan makna ukuran pada tingkat fenomenologis dan
hermeneutik meniscayakan diberlakukannya pembacaaan terhadap Al-Qurán.
V. Ruang-Waktu
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya
kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam
atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama
kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu
sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia
memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al
Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan
orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan
orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang
mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan
berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang
kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah
sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah
ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ~
QS. Al Muzzammil [73]:20.
Selama hayat manusia masih
mengada (being) di bumi, maka manusia
terus-menerus terdeterminasi secara esensial oleh ruang-waktu. Tetapi secara
eksistensial, ruang waktu itu sendiri terdeterminasi oleh waktu-waktu
peribadatan manusia. Dalam keseluruhan ruang-waktu, ritme waktu peribadatan
merupakan mutiara kehidupan bermahkota keagungan makna. Itulah mengapa, hanya
melalui peribadatan, ruang waktu benar-benar bersenyawa dengan eksistensi
manusia. Tanpa peribadatan, maka manusia hanya mampu being dalam ruang-waktu. Tapi dengan peribadatan, ruang-waktu being
dalam diri manusia.
Tuhan menetapkan ukuran waktu, agar peribadatan mahluk
benar-benar berada dalam spektrum yang dapat diperhitungkan dan sekaligus dapat
dikelola secara humanistik. Diferensiasi antara siang dan malam merupakan
takaran pasti atas waktu agar jiwa manusia terlatih menyadari secara asosiatif
– bukan secara monoton –hakikat segala kebajikan yang inherent dalam
peribadatan. Hanya saja, kemantapan jiwa manusia menalar makna dan hakikat
waktu mempersyaratkan sang manusia untuk sepenuhnya dekat dengan Al-Qurán.
Bahkan kedekatan manusia dengan Al-Qurán kian terasa relevan tatkala sang
manusia berada dalam keadaan sakit, dalam proses dialektika pencarian dan
penemuan kebenaran, dan tatkala tengah berada di tengah-tengah kancah medan
jihad.
Ukuran (waktu) dalam perspektif eksistensial di atas merupakan
atmosfer filosofis bagi jiwa yang justru mengondisikan manusia mampu mencerap
hikmah-hikmah transenden dari aksiologi shalat, zakat dan pengorbanan – dalam
format memberikan pinjaman terbaik kepada
Allah.
Demikian hakikat ukuran sebagai parameter kompleks
kehidupan manusia.
VI. Ontologi Bumi
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan
menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran. ~ QS. Al-Hijr [15]:19.
Di jagat
semesta, bumi merupakan zona hunian yang ontologi-ontologinya bersenyawa dengan
hayat umat manusia. Atas dasar alasan itu maka seluruh ontologi yang tersedia
di bumi memiliki ukuran atau kejelasan ukuran. Bahkan berlakunya ukuran atas setiap ontologi memposisikan
bumi sebagai zona bagi mewujudnya peradaban dan kebudayaan adiluhung.
Keterhamparan
bumi juga menjadi sesuatu yang niscaya oleh adanya ontologi-ontologi yang
memiliki klaritas ukuran. Gunung dan
tumbuhan merupakan ontologi yang relevan dengan keterhamparan bumi. Makna dari
keberadaan gunung dan tumbuhan justru karena keduanya memiliki kejelasan ukuran.
VII.
Bumi yang Kosmologis
Dan Kami turunkan air dari langit menurut
suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami
benar-benar berkuasa menghilangkannya. ~ QS. Al Mu'minuun [23]:18.
Air merupakan ontologi yang
berfungsi signifikan memperhubungkan langit dan bumi. Dalam konteks ontologi
air, langit berkedudukan sebagai geneologinya dan bumi berkedudukan sebagai
zona tata kelolanya. Jika langit pemberi, maka bumi penerima. Pola relasi
inilah yang mendedahkan bumi berdimensi kosmologis. Artinya, keberadaan bumi
mustahil dilepaskan dari dimensi-dimensi kosmologis di alam semesta.
Dengan pola relasi itu pula,
maka dapat dimengerti jika keterkiriman air hujan dari langit menuju bumi,
senantiasa memiliki ukuran, atau
didasarkan pada ukuran. Maknanya
secara filosofis adalah ini: relasi antara pemberi dan penerima dalam konteks
mahluk dan kemahlukan mutlak merujuk pada arti penting ukuran, mengacu pada ukuran. Seperti buruknya tata kelola air di
bumi akibat kerusakan ekosistem telah sedemikian rupa menjadi air hujan salah
satu sebab terjadinya banjir. Jika dalam keadaan demikian ternyata air hujan
datang menguyur bumi tanpa ukuran – indefinit – maka dapat dipastikan timbul
malapetaka tak terperikan di bumi.
VIII. Cipta Karsa Manusia
Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada
hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah
menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha
Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat. ~ Asy Syuura
[42]:27.
Tuhan telah menetapkan ukuran,
bahwa rezeki yang diberikan kepada manusia tidak bersifat indefinit, tetapi
justru definit. Sebab, bilamana rezeki bersifat indefinit, timbul malapetaka
besar dalam hayat manusia di tengah pusaran peradaban dan kebudayaan. Dengan
rezeki melimpah ruah tak bertepi dalam kehidupan seorang manusia, maka jiwa
sang manusia berada dalam keadaan ringkih, sehingga hanya persoalan waktu saja
jika kemudian manusia sepenuhnya tergelincir dalam kefasikan, kejahatan dan
absurditas. Bahkan, manusia berada dalam tendensi untuk hanya menzalimi dirinya
sendiri tatkala tengah berada di tengah keberlimpahan rezeki yang tak bertepi.
Epistemologi Allah tentang
rezeki untuk manusia memiliki kejelasan prinsip filosofis. Epistemologi Allah
menetapkan ukuran rezeki yang
ditebarkan untuk kehidupan umat manusia di bumi. Epistemologi ini terkukuhkan
sebagai keniscayaan yang bersifat transenden. Rezeki terumuskan sebagai
pemberian Allah kepada manusia dengan mengacu pada cipta karsa manusia yang bernilai
maslahat bagi realitas hidup berdurasi jangka panjang.
IX. Humanisme
Allah mengetahui apa yang dikandung oleh
setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah.
Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. ~ QS. Ar Ra'd
[13]:8.
Kompleksitas reproduksi
manusia merupakan semiotika berkenaan dengan pentingnya humanisme. Melalui
proses reproduksi, manusia mampu merawat harapan untuk melanjutkan dinamika
kebudayaan yang huamnsitik di bumi. Demikian pentingnya aspek reproduksi bagi
humanisme, Tuhan mensupervisi secara langsung proses reproduksi manusia. Untuk
keperluan supervisi itu, maka proses reproduksi manusia masuk ke dalam cakupan
filosofi ukuran, persis sebagaimana
dikemukan Al-Qur’an.
X. Epilog
Peradaban dan kebudayaan umat
manusia di bumi membutuhkan kejelasan parameter dalam konteks:
- Keutuhan epistemologi yang mendasari berlakunya segala macam ukuran.
- Unifikasi keberadaan berbagai macam mahluk melalui ukuran yang spesifik.
- Kejelasan referensi untuk mengargumentasikan bahwa ukuran atas keberadaan seluruh mahluk merupakan parameter transenden
- Ibadah – manusia kepada Tuhan – merupakan ukuran paling substansial berkenaan dengan being ruang waktu.
- Seluruh ontologi being di bumi berdasarkan ukuran yang clear and distinct.
- Relasi antara bumi dan alam semesta yang berdimensi kosmologis memiliki kerangka logis berupa ukuran.
- Ukuran rezeki manusia didasarkan pada takaran cipta karsa dalam keseluruhan karya manusia.
- Ukuran atas humanisme diberlakukan demi menjamin lestarinya kemaslahatan hidup umat manusia.[]
No comments:
Post a Comment